Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) PAPPRI mendistribusikan royalti kepada anggotanya, para penyanyi dan seniman musik, untuk menerima royalti sepanjang tahun 2019, kemarin. Distribusi royalti yang dibarengkan dengan acara dialog musik oleh PAPPRI, itu dibagikan uang royalti sebesar 2.5 miliar rupiah lebih kepada 478 anggota LMK PAPPRI.
“Pembayaran kami lakukan dengan sistem ditransfer. Setelah LMK PAPPRI mendapatkan pemasukan dari para users,” ujar Ketua LMK PAPPRI, Dwiky Dharmawan, di Gedung Perpusnas Lt 2 Jl Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (11/3) siang.

Dwiky Dharmawan menambahkan, para users terdiri dari rumah karaoke, hotel, cafe, angkutan udara dan beberapa sumber lainnya, yang memutar lagu-lagu milik anggota LMK PAPPRI.
Ditambahkan Wakil Ketua LMK PAPPRI, Johny Maukar, kebijakan LMK PAPPRI berangkat dari data base yang dimiliki LMK PAPPRI. Agar perhitungannya cepat dan cermat,  sehingga tidak ada anggota yang dirugikan. 
“Contohnya Naniel Yakin sebagai pencipta lagu Bento, menerima royalti dari Wami atau KCI tempat lagu itu didaftarkan. Tapi sebagai performers dia mendapatkan royalti dari LMK Pappri sebagai penampil,” kata Johny Maukar.

Meski yang diterima Naniel Yakin sangat sedikit. “Kenapa bisa begitu, karena dia belum memasukkan lagu Bento di PAPPRI,” imbuh dia, sembari menyebut kesalahan tidak memasukkan data, acap terjadi karena kesalahan musisinya sendiri.

Selain itu ada kekeliruan dari pencipta lagu, yang memasukkan lagu-lagu ciptaannya di data base LMK PAPPRI, tapi dia tidak turut sebagai penampil saat lagu itu dibawakan.
Lebih lanjut Johny Maukar menambahkan, sistem yang digunakan LMK PAPPRI berdasarkan prinsip keadilan. “Yang lagunya banyak digunakan users dapat banyak royalti,  yang sedikit digunakan users ya dapat sedikit royaltinya,” pungkasnya.